Sabtu, 17 November 2012

MEREKA ITU LUAR BIASA... SAHABATKU

Tidak banyak yang bisa kukatakan ketika melihat potret teman teman lamaku... hanya senyum kecil menahan rasa kangen untuk bisa bertemu mereka. Selain yang dulu anak anak dan sekarang pada punya anak, serta sebagian lagi terlihat bertambah berat badan dan mekar, tak ada perubahan drastis pada mereka.. tetap ceria seperti saat sama sama menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Tuban, Yang terletak di pinggiran kota Tuban, suatu kota kecil yang asri di pantai utara... Dan sekali lagi, tak banyak yang bisa kukatakan, selain rasa kangen yang tak terucap namun terungkap... Kalian memang luar biasa sahabat...







































Rabu, 14 November 2012

KUDA LUMPING... HITAM PUTIH SI JARAN KEPANG.


Jaran kepang adalah salah satu jenis kesenian dari sekian banyak kesenian khas yang di miliki di kabupaten malang, provinsi jawa timur. Seperti pada kesenian umumnya, musik yang ada dalam jaran kepang  pun terdiri dari music - musik dan pemain atau penari. Hanya saja jenis kesenian ini menampilkan sisi keunikan  tersendiri yang jarang di tampilkan dalam kesenian lain misalnya tarian ini mengunakan media kuda-kudaan yang terbuat dari musik tetapi tanpa kaki, di tunggangi oleh penari dan si penari menjadi kalap layaknya seseorang yang kesurupan atau kemasukan makhluk halus yang tidak tampak oleh mata. Ketika si penari sudah kalap ia akan melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan bunyi usic seperti yang di jelaskan oleh pembina paguyuban kesenian khas malang, kabupaten malang, sugiono, berikut ini
“Orang-orang tertentu biasanya mereka pakai pecut berbau minyak kemudian ada kemenyannya, jadi di bakar kemenyan kemudian doa-doanya di baca, kadang ada yang baca doanya dengan loadspeaker,kalau orang kenduri disebut ujub. Setelah itu pecutnya di bunyikan keras, terus mereka berputar. Jadi intinya orang yang bisa kalap itu kalau sudah capai,  kalau orang sudah capai pikiran udah agak kosong biasanya kalap. Kadang kalau tidak cocok kendangnya yang sudah kalap marah”


Sementara instrument musik yang di mainkan terdiri dari angklung, kendang, jidor, gong, saron, gamelan, dan terompet. Namun kendanglah yang paling dominan dalam mengendalikan gerakan si penari. Komandonya itu kendang, mau naik turun – naik turun itu dari kendangnya. Kendangnya di naikkan tung tang tung lha itu mereka berputar-putar langsung nglundung…kalap.

Pada kesenian jaran kepang, banyaknya penari atau pemainnya tidak ditentukan jumlahnya. Bisa 6 atau 12 orang. Yang jelas menjadi seorang pemain jaran kepang tidak mudah karena biasanya kesenian ditampilkan dalam jangka waktu yang lam, sekitar 5 sampai 8 jam. Edi yang sudah menjadi penari atau pemain jaran kepang sejak tahun 2008 menuturkan bahwa menjadi penari jaran kepang merasa capek apalagi saat sedang kalap atau kerasukan roh halus. Ada yang lebih menarik dari kesenian jaran kepang ini yaitu  saat sedang kalap si penari biasanya melakukan hal-hal di luar akal sehat manusia. Seperti  memakan pecahan kaca/beling, tetapi benda tersebut tidak melukai anggota tubuhnya. Seperti yang di katakan oleh edi

“Enggak sampai luka kok.biasanya penontonlah justru yang terluka itu kalau pemain jarang yang luka. Itukan ada pawangnya sendiri, ada pendekarlah istilahnya.”

Selain melakukan hal-hal di luar akal sehat manusia ketika sedang kalap penonton merasa senang sehingga mereka akan bereaksi seperti tepuk tangan, tertawa, bersiul dan sebagainya. Hal ini membuat si penari secara tiba-tiba marah bahkan terkadang mengejar penonton karena merasa di ejek. Seperti yang di tuturkan oleh edi

“Katanya meledek roh halusnya begitu”


Lalu bagaimana dengan penonton, adakah perasaan takut saat menonton jaran kepang ini, vibi, salah seorang penonton jaran kepang yang usianya 9 tahun, meskipun takut tapi dirinya merasa senang menyaksikan kesenian ini. 

Ki Suryo


Kesenian jaran kepang menurut budayawan malang, ki suryo di perkirakan sudah ada sejak masa kerajaan singasari. Ketika sareng rono atau para prajurit beristirahat setelah latihan, mereka bersenang-senang menggunakan alat untuk latihan keprajuritan dan dibuat seperti kuda dengan musik jidor dan angklung. Menurut ki suryo jaran kepang sebenarnya merupakan symbolis dari bahasa dari bahasa jawa yang berarti suatu ajaran yang kepanggih atau ketemu. Selain itu berkaitan dengan sebuah kepercayaan pada kesuburan tanah.



Jadi jaran kepang malangan , jaran kepang dor yang ada di malang ini bener-bener memang ada sebab ada prasasti. Itu ditemukan di daerah wagir beliau pernah cerita begitu , bahwasanya disitu tertulis kalau di artikan begini, bahwasanya pada masa itu  yaitu sureng rono, sureng rono prajurit , namanya prajurit kelompok prajurit  singasari yang telah gladhi latihan keprajuritan. Dia istirahat akhirnya dia mencoba bersenang-senang dengan alat yang di pakai latihan perang tadi di buat suatu tarian yang di sebut jaran kepang tadi, di buat seperti kuda yang di naiki lha itu… lalu yang ke dua bahwasanya mereka masih percaya berkenaan dengan  mereka kalau sudah melakukan istilahnya kalau orang sekarang mengatakan kalap gitu ya… kesurupan, itu ada sesuatu yang mereka dapatkan. Mereka itu kalau pada waktu kakinya itu nggedruk atau kencak itu bisa menyuburkan tanah.

Dengan air keringatnya yang menetes ke bumi itu bisa menyuburkan, itu kepercayaan kalau mereka sudah memainkan jaran kepang dor yang bener-bener orsinal.

Pada setiap kesenian tentu memberikan makna dan pesan  bagi para penonton atau penikmatnya. Begitu pun dengan kesenian jaran kepang yang tidak hanya memberikan sebuah pertunjukan yang menghibur saja, tetapi mengandung pesan bagi kehidupan manusia.
Seperti yang di tuturkan oleh ki suryo berikut ini.

“Selama ini memang kalau kita, masyarakat tidak mengerti suatu kesenian, mereka cuma sebagai tontonan yang sebagai hiburan biasa. Setelah selesai ya selesai sudah seperti hilang tetapi sebenarnya kita harus mengembalikan dulu bahwa nenek moyang kita/ leluhur kita membuat kesenian, itu selain suatu hiburan juga mengandung arti tentang.. Ada pesan yang nanti setelah selesai kesenian dan dia pulang yang menonton itu akhirnya mendapat suatu ilmu/pesan itu. Nah, di sini kita mencoba kembali bukan suatu hiburan saja tetapi untuk menggali lagi untuk mengungkap kembali dengan teman-teman yang dari komunitas budaya ini untuk mengeluarkan lagi pesan – pesan yang terkandung dalam kesenian itu. Seperti di kesenian jaran kepang, yang pertama dalam kekompakan, ya.. Jadi sesuatu itu diambil  dari suatu ajaran yang kepanggih, mana yang perlu di temukan kepanggihnya itu. Jadi yang pertama adalah kekompakan dari mereka. Kalau mereka tidak kompak saya kira suatu contoh yang tidak bagus. Lalu kesadaran dan sadar mereka, bawasannya tanpa menggarapkam menghitung materinya dulu tapi dia sudah ada niatan untuk mengajarkan umpamanya begitu. Nah itu , adalah yang kedua. Lalu yang ke tiga, adalah mereka setelah di tempat itu melakukan itu mereka tidak ada tingkatan yang mereka bawa atau pesan mereka adalah kebersamaan dari kita adalah perlu tidak menonjolkan  masing-masing. Jadi tidak aku yang lebih pandai tetapi mereka adalah masing-masing saling mendukung.”


Pada setiap kesenian tentu memberikan makna dan pesan  bagi para penonton atau penikmatnya. Begitu pun dengan kesenian jaran kepang yang tidak hanya memberikan sebuah pertunjukan yang menghibur saja, tetapi mengandung pesan bagi kehidupan manusia.
Seperti yang di yuyurkan oleh ki suryo berikut ini.

“Selama ini memang kalau kita, masyarakat tidak mengerti suatu kesenian, mereka cuma sebagai tontonan yang sebagai hiburan biasa. Setelah selesai ya selesai sudah seperti hilang tetapi sebenarnya kita harus mengembalikan dulu bahwa nenek moyang kita/ leluhur kita membuat kesenian, itu selain suatu hiburan juga mengandung arti .. Ada pesan yang nanti setelah selesai kesenian dan dia pulang yang menonton itu akhirnya mendapat suatu ilmu/pesan itu. Nah, di sini kita mencoba kembali bukan suatu hiburan saja tetapi untuk menggali lagi untuk mengungkap kembali dengan teman-teman yang dari komunitas budaya ini untuk mengeluarkan lagi pesan – pesan yang terkandung dalam kesenian itu. Seperti di kesenian jaran kepang, yang pertama dalam kekompakan, ya.. Jadi sesuatu itu diambil  dari suatu ajaran yang kepanggih, mana yang perlu di temukan kepanggihnya itu. Jadi yang pertama adalah kekompakan dari mereka. Kalau mereka tidak kompak saya kira suatu contoh yang tidak bagus. Lalu kesadaran dan sadar mereka, bawasannya tanpa menggarapkam menghitung materinya dulu tapi dia sudah ada niatan untuk mengajarkan umpamanya begitu. Nah itu , adalah yang kedua. Lalu yang ke tiga, adalah mereka setelah di tempat itu melakukan itu mereka tidak ada tingkatan yang mereka bawa atau pesan mereka adalah kebersamaan dari kita adalah perlu tidak menonjolkan  masing-masing. Jadi tidak aku yang lebih pandai tetapi mereka adalah masing-masing saling mendukung.”



Seiring dengan perkembangan zaman dan begitu gencarnya budaya asing yang masuk ke indonesia, apakah jaran kepang harus musnah di makan zaman ?
Ki surya mengungkapan

“Saya malah tidak khawatir dengan istilah yang di gembor-gemborkan adalah kita lebih nanti akan terhanyut, akan terlena dengan seni yang dari luar, ya .. Orang luar malah tertarik, sekarang jaran kepang sempat ke perancis"

Jaran kepang… Dibalik keunikannya dengan melibatkan dua dunia yang berbeda, yaitu dunia alam nyata dan dunia alam yang tak nampak adalah salah satu kekayaan negeri yang perlu di lestarikan sebagai suatu penghargaan terhadap hasil karya anak bangsa indonesia sehingga tidak akan punah di makan zaman...

Senin, 12 November 2012

WAHYU PANCA WARSITA



WAHYU PANCA WARSITA

WAHYU

Menurut sebagian dari faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/ akhirat). Sementara itu ada tokoh spiritual lain menyebutkan Panca Mukti Muni Wacana yang hanya terdiri atas lima kelompok (bukan tujuh).
Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas :

1. Panca Sila.
2. Panca Karya.
3. Panca Guna.
4. Panca Dharma.
5. Panca Jaya.
6. Panca Daya.
7. Panca Pamanunggal.

1. Pancasila

Pancasila merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia.

1.1.Hambeg Manembah.
Hambeg manembah adalah sikap ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepadaNya. Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam kelanggengan ( akhirat ) kelak ( Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng ).
Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana ( Hyang Suksma Kawekas ).
Hambeg Mangeran ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkang akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

1.2.Hambeg Manunggal.
Hambeg manunggal adalah sikap bersatu. Manusia yang hambeg mangeran akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran Hyang Suksma Adi Luwih ( Tuhan Yang Maha Luhur ). Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi di dalam kehidupannya.
Di dalam salah satu ajaran spiritual, hambeg manunggal itu dinyatakan sebagai, manunggaling kawula lan gustine (bersatunya antara rakyat dengan pemimpin), manunggale jagad gedhe lan jagad cilik (bersatunya jagad besar dengan jagad kecil ), manunggale manungsa lan alame ( bersatunya manusia dengan alam sekitarnya ), manunggale dhiri lan bebrayan ( bersatunya individu dengan masyarakat luas ), manunggaling sapadha-padha ( persatuan di antara sesama ), dan sebagainya.

1.3.Hambeg Welas Asih.
Hambeg welas asih adalah sikap kasih sayang. Manusia yang hambeg mangeran, akan merasa dhirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah hambeg manunggal, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang di antara sesamanya. Sikap kasih sayang itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan.

1.4. Hambeg Wisata.
Hambeg wisata adalah sikap tenteram dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tenteram dan merasa mantap di dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta.
Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta. Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamatan, di dalam kehidupan.

1.5.Hambeg Makarya Jaya Sasama.
Hambeg Makarya Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa “tidak rela” jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan.


2. Panca Karya
Panca karya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan berkarya di dalam kehidupan.

2.1.Karyaning Cipta Tata.
Karyaning Cipta Tata adalah kemampuan berfikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut ( tidak worsuh, tidak tumpang tindih ). Manusia wajib mengolah kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal.

2.2.Karyaning Rasa Resik.
Karyaning rasa resik adalah kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran/budi luhur.

2.3.Karyaning Karsa Lugu.
Karyaning Karsa Lugu adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah ( sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci/Hyang Suksma Jati Kawekas ).

2.4.Karyaning Jiwa Mardika.
Karyaning Jiwa Mardika adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian ( Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan ).

2.5.Karyaning Suksma Meneng.
Karyaning Suksma Meneng adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, “ teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah “. Di dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera.

3. Panca Guna.

Panca guna merupakan butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

3.1.Guna Empan Papaning Daya Pikir.
Guna empan papaning daya pikir adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berfikir secara benar, efektif, dan efisien ( tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu ).

3.2.Guna Empan Papaning Daya Rasa.
Guna empan papaning daya rasa adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan ( rasa, rumangsa, lan pangrasa ), secara arif dan bijaksana.

3.3.Guna Empan Papaning Daya Karsa.
Guna empan papaning daya karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan.

3.4.Guna Empan Papaning Daya Karya.
Guna empan papaning daya karya adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

3.5.Guna Empan Papaning Daya Panguwasa.
Guna empan papaning daya panguwasa adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana (tidak menyalahgunakan kewenangan). Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola (merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi ) kehidupan alam semesta.

4. Panca Dharma.
Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya.

4.1.Dharma Marang Hingkang Akarya Jagad.
Dharma marang Hingkang Akarya Jagad adalah melaksanakan perbuatan mulia sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta ( memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad traya ).

4.2.Dharma Marang Dhirine.
Dharma marang dhirine adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola dhirinya secara baik. Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya.
Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

4.3.Dharma Marang Kulawarga.
Dharma marang kulawarga adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi akhak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompoh ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik, benar, dan tepat.

4.4.Dharma Marang Bebrayan.
Dharma marang bebrayan adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa.

4.5.Dharma Marang Nagara.
Dharma marang nagara adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesetosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.
5. Panca Jaya.
Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

5.1.Jayeng Dhiri.
Jayeng dhiri artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan ( ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa ).

5.2.Jayeng Bhaya.
Jayeng Bhaya artinya mampu menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya. Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan ( mendatangkan dampak negatif ), sehingga sering disebut ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake‘ ( menyerang tanpa pasukan, menang dengan tidak mengalahkan).

5.3.Jayeng Donya.
Jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang nandang kesusahan/ papa cintraka).

5.4.Jayeng Bawana Langgeng.
Jayeng bawana langgeng artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat.

5.5.Jayeng Lana ( mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng ).
Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi.

6. Panca Daya.
Panca daya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin.

6.1.Daya Kawruh Luhuring Sujanma.
Daya kawruh luhuring sujanma artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta.

6.2.Daya Adiling Pangarsa.
Daya adiling pangarsa/tuwanggana artinya kekuatan keadilan para pemimpin.

6.3.Daya Katemenaning Pangupa Boga.
Daya katemenaning pangupa boga artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian ( pedagang, pengusaha ).

6.4.Daya Kasetyaning Para Punggawa lan Nayaka.
Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan.

6.5.Daya Panembahing Para Kawula.
Daya panembahing para kawula artinya kekuatan kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat ( mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan ).

7. Panca Pamanunggal ( Panca Panunggal ).

Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini.

7.1.Pandhita Suci Hing Cipta Nala.
Pandita suci hing cipta nala adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian fikir dan tingkah laku demi memperoleh ridlo Ilahi.

7.2.Pamong Waskita.
Pamong waskita adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya.

7.3.Pangayom Pradah Ber Budi Bawa Bawa Leksana.
Pangayom pradhah ber budi bawa leksana adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil berdasarkan kejujuran.

7.4.Pangarsa Mulya Limpat Wicaksana.
Pangarsa mulya limpat wicaksana artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana.

7.5.Pangreh Wibawa Lumaku Tama.
Pangreh wibawa lumaku tama artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia (laku utama).